makalah tentang gizi buruk

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
               Setiap orang utuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup memerlukan zat gizi dalam jumlah yang cukup pemberian gizi senaiknya harus memperhatikan kemampuan tubuh seseorang untuk mencerna makanan, umur, jenis kelamin, jenis aktivitas dan  kondisi tertentu seperti sakit, hamil dan menyusui. Gizi merupakan suatu proses organisme merupakan makanana yang di konsumsi secara normal melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, pemyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat gizi untuk di konsumsi individu dalam satu hari yang beraneka ragam dan mengandung zat tenaga, pembangun pengatur yang sesuai dengan kebutuhan (Heryati, 2005:34)
Data yang di peroleh peneliti tentang gizi buruk adalah sebagai berikut: menurut data dari UNICEF 2008  menunjukan penderita gizi buruk pada anak balita meningkat jumlahnya. Dari 1,8 juta jiwa pada tahun 2009 mencapai 2,3 juta jiwa data tahun 2008. Dari data gizi buruk di Indonesia tahun 2009 mencapai 13 juta jiwa. Di Jawa Timur angka gizi buruk tahun 2011 5.903 jiwa. Tingkat Kabupaten Jombang tahun 2007 balita yang mengalami gizi buruk sekitar 1.617  balita .dari Dusun Balong Biru  2012 terdapat 6 balita yang mengalami gizi buruk. Melalui wawancara pada saat studi pendahuluan 10 Januari 2012 di Dusun Balong Biru, Desa Balong Besuk, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, dari 10 ibu 7 diantara mereka kurang mengerti tentang gizi seimbang pada balitanya.
Sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan. Faktor lain yang mempengaruhi rendahnya tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang diantanya adalah status ekonomi, pekerjaan dan pendidikan sehingga dapat berkembang pada status gizi balita dimana ditunjukkan adanya hubungan antara kemiskinan dengan proporsi anak yang gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. Kurang gizi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktifitas (Irawandi, 2008). Selain itu apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam, maka akan timbul ketidakseimbangan ini maka akan menyebabkan: Gizi lebih, Gizi kurang, Gizi buruk, Anemia, Gizi Besi (AGB), Kekurangan Vitamin A, Gangguan akibat kekurangan Yodium (GAKY). Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beraneka ragam kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan di lengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang (Heryati dkk .2005.46-47).
Untuk mencapai derjat kesehatan setinggi-tingginya maka diperlukan pengetahuan tentang kesehatan yang baik dan tepat. Merubah perilaku seseorang untuk berperilaku sehat tidak mudah dengan menggalangkan pola pendekatan pendampingan ibu pada pemberian makanan. Memberi pengetahuan kepada ibu tentang gizi seimbang pada kader posyandu tentang materi seimbang yang di lakukan rutin setiap bulan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa banyak ibu yang balitanya mengalami penurunan barat badan dan banyak ibu yang pengetahuannya kurang. Maka peneliti menganggap perlu melakukan lebih lanjut mengenai pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada gizi balita di Dusun Balong Biru, Desa Balong Besuk, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang
1.2         Rumusan Masalah
              Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah adalah  Bagaimana pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada balita di  Dusun Balong Biru, Desa Balong Besuk, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang?.
1.3    Tujuan Penelitian
               Mengetahui pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada balita di  Dusun Balong Biru, Desa Balong Besuk, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

» Read More...

infus IV

1.    Untuk infuse IV :
a.       Periksa larutan dengan menggunakan”lima tepat” dari pemberian obat. Yakinkan tambahan resep (misalnya kalium dan vitamin) telah ditambahkan. Periksa larutan untuk warna, kejernihan, dan tanggal kadaluarsa. Oservasi kebocoran kantung cairan
b.      Buku set infuse dengan mempertahankan sterilitas untuk dari kedua ujung. Banyak set memungkinkan pengeluaran selang tanpa melepaskan penutup ujungnya
c.       Tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm dibawah ruang drip dan gerakan klem rol pada posisi “off”
d.      Lepaskan pembungkus lubang selang IV pada kantung larutan IV plastic
e.       Tusukkan set infuse kedalam kantong cairan atau botol. Untuk kantong, lepaskan penutup protector dari jarum insersi selang, jangan menyentuh jarumnya, dan tusukkan jarum kedalam lubang kantung IV. Untuk botol, bersihkan stopper pada larutan botol antiseptic dan tusukkan jarum kedalam karet hitam stopper botol IV
f.       Mulai selang infuse dengan mengalirkan larutan IV. Tekan ruang drip dan lepaskan, ini memungkinkan pengisian 1/3 sampai ½ penuh
g.      Lepaskan penutup pelindung jarum dan lepaskan klem rol untuk memungkinkan cairan mengalir dari ruang drip melalui selang ke adapter jarum. Kembalikan klem rol ke posisi off setelah slang steril
h.      Yakinkakn selang bersih dari udara dan gelembung udara. Untuk menghilangkan gelembung udara kecil, dengan keras ketuk selang IV ketika gelembung udara tepat tempat gelembung udara. Periksa selluruh selang untuk menjamin bahwa semua gelembung udara hilang. Bila menggunakan selang lubang terbalik dan ketuk untuk mengisi dan menghilangkan udara.
i.        Pasang kebali penutup pada ujung selang infuse
2.    Kenakan sarung tangan sekali pakai. Pelindung mata atau masker dapat dipakai, bila ada kemungkinan percikan darah

» Read More...

INFEKSI NOSOKOMIAL

Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Sedangkan infeksi nosokomial adalah Infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien dirawat di Rumah Sakit. Infeksi nosokomial biasanya terjadi setelah pasien dirawat minimal 3 x 24 jam di rumah sakit.
Bisa saja ini merupakan persoalan serius yang dapat menjadi penyebab langsung atau tidak langsung terhadap kematian pasien. Mungkin saja di beberapa kejadian, Infeksi Nosokomial tidak menyebabkan kematian pasien.. Akan tetapi ia menjadi penyebab penting pasien dirawat lebih lama di Rumah Sakit.

A.      RANTAI PENULARAN
Infeksi nosokomial mulai dengan penyebab (di bagian tengah gambar berikut), yang ada pada sumber. Kuman keluar dari sumber melalui tempat tertentu, kemudian dengan cara penularan tertentu misalnya melalui alat, lalu masuk ke tempat tertentu di pasien lain. Karena banyak pasien di rumah sakit rentan terhadap infeksi (terutama orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah), mereka dapat tertular dan jatuh sakit ‘tambahan’. Selanjutnya, kuman penyakit ini keluar dari pasien tersebut dan meneruskan rantai penularan lagi.

B.       ALAT SEBAGAI MEDIA TRANSMISI INFEKSI
Infeksi nosokomial sering disebabkan karena infeksi dari kateter urin, infeksi jarum infus,jarum suntik, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari luka operasi dan septikemia. Selain itu pemakaian infus dan kateter urin yang lama tidak diganti-ganti, juga menjadi penyebab utamanya. Di ruang penyakit, diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus.

» Read More...

Pengetahuan Lansia Tentang penyakit Artritis Reumatoid Di Dusun Balongbiru Desa Balongbesuk Kec.Diwek Kab.Jombang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejalan dengan semakin meningkatnya usia seseorang, maka akan terjadi perubahan-perubahan pada tubuh manusia. Perubahan-perubahan tersebut terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan rematik (Fitriani, 2009).Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan tulang atau jaringan penunjang sekitar sendi, golongan penyakit ini merupakan penyakit Autoimun yang banyak di derita oleh kaum lanjut usia (usia 50 tahun ke atas), (Junaidi, 2006). Penyakit ini lebih sering terjadi pada perempuan dan biasanya menyerang orang yang berusia lebih dari 40 tahun (Arif Muttaqin, 2008). Rematik terutama menyerang Sendi-sendi, tulang, ligamentum, tendon dan persendian pada laki-laki maupun perempuan dengan segala usia. Rematik dapat menghambat produktifitas serta menurunkan kualitas hidup seseorang,dan yang sangat di sayangkan hingga saat ini masyarakat belum menyikapi secara tepat.selain itu pengetahuan masyarakat tentang penyakit rematikpun masih belum cukup baik.sehingga perlu pemberian sebuah pengetahuan yang baik agar pengetahuan penderita rematik juga baik (Andriani Gancswari).
Angka kejadian rematik pada tahun 2008 yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO adalah mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang rematik, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun (Wiyono, 2010). Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al 2008, prevalensi rematik di Indonesia mencapai 23,6% hingga 31,3%, angka ini menunjukkan bahwa nyeri akibat rematik sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia. Berdasarkan pusat data BPS Provinsi Jawa Timur, Rematik merupakan salah satu penyakit terbanyak yang di derita oleh kaum lansia yaitu pada tahun 2007 sebanyak 28% dari 4.209.817 lansia menderita penyakit rematik (Smart, 2010).
Dampak dari keadaan ini dapat mengancam jiwa penderitanya atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan, dan masalah yang disebabkan oleh penyakit rematik tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas hingga terjadi hal yang paling ditakuti yaitu menimbulkan kecacatan seperti kelumpuhan dan gangguan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta Resiko tinggi terjadi cidera(Kisworo, 2008)
Menurut Smith Tony,2007; 17 ,untuk mengatasinya perlu di berikan sebuah informasi atau pengetahuan berupa HE (Healt Education) tentang penyakit artritis atau yang sering disebut dengan penyakit rematik,mulai dari pengertian penyakit rematik itu sendiri,penyebab penyakit rematik,tanda dan gejala penyakit rematik,sampai cara pencegahan penyakit rematik.
Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “pengetahuan lansia tentang penyakit arthritis rheumatoid”.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian diatas peneliti merumuskan masalah “Bagaimana Pengetahuan Lansia Tentang Penyakit Arthritis Rheumatoid di Dusun Balongbiru Desa Balongbesuk Kec.Diwek Kab.Jombang” ?

1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui Pengetahuan Lansia Tentang penyakit Artritis Reumatoid Di Dusun Balongbiru Desa Balongbesuk Kec.Diwek Kab.Jombang.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Menjadi masukan bagi peneliti untuk penelitian lebih lanjut tentang arthritis rheumatoid serta menambah wawasan dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemahaman metodelogi..

» Read More...

MAKALAH SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA IBU NIFAS

» Read More...

Contoh Lembar Kuesioner

Kuesioner Pengetahuan Ibu Tentang Kontrasepsi Dengan Keikutsertaan menjadi Akseptor KB

Nama               :
Alamat             :
Petunjuk Pengisian !
1.      Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan anda saat ini.
2.      Berilah tanda (Ö) pada jawaban yang sesuai atau yang dipilih
Data Umum
1.      Berapa usia ibu saat ini ?
15 – 25 Tahun
26 – 35 Tahun
36 – 45 Tahun
2.      Pendidikan terakhir yang pernah ibu tempuh ?
SD atau sederajat SMP
SMA atau sederajat
Perguruan Tinggi atau Diploma
3.      Jumlah anak ibu saat ini ?
1 Orang
2 Orang
Lebih dari 2 orang

Pengetahuan Tentang KB

» Read More...

Contoh Lembar Kuisioner

LEMBAR KUISIONER
Pengaruh pengetahuan wanita berusia 25 – 45 tahun terhadap perilaku pemeriksaan pap smear sebagai deteksi dini karsinoma servik uteri di Dusun Peting Desa Talok Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto
Nama Responden      : ……………………….
Tanggal Pengisian      : ……………………….
Petunjuk Pengisian I
Kami mohon ibu memberikan jawaban sejujurnya. Jawaban ibu akan kami rahasiakan.
I.             Identitas Responden
Umur Ibu             :                                   Pekerjaan                     :
Pendidikan Terakhir         :                                   Penghasilan/Bulan         :
Agama                            :
II.          Pengetahuan wanita berusia 25 – 45 tahun tentang pap smear sebagai deteksi dini karsinoma uteri

» Read More...

Lembar Questioner Tentang Pil KB

DAFTAR QUESTIONER

PETUNJUK PENGISIAN
Jawablah pertanyaan pada tempat yang telah disediakan dengan memberi tanda silang (x) pada salah satu jawaban ibu anggap paling benar
Pertanyaan berhubungan dengan pengetahuan ibu

A. Yang Berhubungan Dengan Karakteristik Ibu Atau Akseptor Pil KB
1. Berapakah umur akseptor pil KB ........
2. Tingkat pendidikan akseptor pil KB .......
3. Apa pekerjaan akseptor pil KB .........

B. Pengetahuan Ibu Tentang Kegunaan Pil KB
1. Apakah kegunaan pil KB ?
a. Untuk mengugurkan kandungan
b. Untuk menyuburkan kehamilan
c. Untuk mencegah keguguran
d. Untuk mencegah terjadinya kehamilan
2. Keuntungan minum pil KB adalah sebagai berikut
a. Murah dan mudah didapat
b. Tidak menjadikan trauma pada si pemakai
c. Bisa menstruasi
d. Jawaban a, b dan c benar
C. Hal Yang Harus Diketahui Oleh Akseptor Kb Mengenai Waktu Yang Tepat Memulai Minum Pil KB

» Read More...

ANALISA GAS DARAH


BAB I
PENDAHULUAN




A. Latar Belakang
Di Indonesia hampir 50% penyakit  dalam dilakukan AGD (Analisa Gas Darah) untuk mendapatkan data penunjang, pada tahun 2007 banyaknya penderita demam berdarah menambah catatan penderita penyakit dalam yang dilakukan  AGD (Analisa Gas Darah).
Dari keadaan di atas sangat dibutuhkan peran perawat dalam AGD yaitu Observasi tempat penusukan dari pendarahan, hematom, atau pucat pada bagian distal.
Dengan meningkatnya catatan penderita penyakit dalam yang dilakukan AGD, maka penulis tertarik untuk mengangkat “Analisa Gas Darah”.   
$3Cdiv class="MsoNormal" style="text-align: justify;">

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tentang analisa gas darah.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menyebutkan dan melakukan langkah - langkah prosedur analisa gas darah.
b. Mahasiswa mampu menyebutkan dan mepersiapkan alat – alat untuk pengambilan sempel darah vena. 

C. RUANG LINGKUP
Penulisan makalah ilmiah ini hanya membahas tentang AGD (Analisa Gas Darah)

D. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:
Studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan AGD (Analisa Gas Darah)

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan karya ilmiah ini terdiri darin 3 bab yaitu:
BAB I          : PENDAHULUAN
Yang terdiri dari  : Latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II         : PEMBAHASAN
Yang terdiri dari : Pendahuluan, tujuan, indikasi, kontraindikasi, kemungkinan kompilasi, peralatan, prosedur, tindak lanjut.
BAB III       : PENUTUP
Yang terdiri dari : Kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
ANALISA GAS DARAH

A. Pendahuluan
Anlisa gas darah (AGD) yaitu pemeriksaan untuk mendapatkan sempel darah arteri (ABG) yang meliputi oksigen, karbondioksida, dan bikarbonat.

B. Tujuan
Untuk mengetahui derajat asidosis atau alkalosis.

C. Indiksi
Untuk mengevaluasi dan membantu dalam penatalaksanaan hipoksia, keseimbangan asam basa dan terapi oksigen.

D. Kontraindikasi
Sirkulasi kolateral yang tida adekuat pada ekstremitas yang telah dievaluasi dengan tes allen.

E. Kemungkinan kompilasi
1. Hematom
2. Kerusakan saraf perifer
3. Trombosis$3C/o:p>
4. Spasme arteri
5. Gangguan sirkulasi pada ekstremitas

F. Peralatan
1. Spuit no. 22 atau 23
2. Heparin (1.000g/ml) atau spuit preheparinisasi
3. Kapas / penyumbat povidon iodin
4. Kapas alcohol
5. Bantalan kasa
6. Secangkir es
7. Lebel pengenal pasien
8. Lembar formullir permintaan laboratorium
9. Plester adesif

G. Prosedur
1. Atur peralatan
2. Berikan heparin pada spuit dengan melakukan aspirasi ½  ml heparin. Tarik kebelakang plunger dengan posisi vertikal sehingga semua dinding spuit terbasahi oleh heparin. Keluarkan udara dan sisa heparin dari dalam spuit. Sisakan sejumlah kecil heparin pada bagian hub spuit.
3. Identifikasi pasien, yakinkan, dan jelaskan prosedur tindakan pada pasien.
4. Pilih tempat tusukan (arteri radial adalah yang terbaik karma dangkal dan ada sirkulasi kolateral pada lengan. Hindari tempat yang terdapat hematom, tempat tusukan berulang, atau kelainan patologis kulit.
5. Pada tempat radial, lakukan tes allen untuk mengkaji sirkulasi kolateral.
a. perintahkan pasien uuntuk mengepalkan tangannya dan melepaskan kepalan tersebut beberapa kali.
b. Kemudian raba dengan lembut arteri radialis dan arteri ulnaris mengunakan ibu jari
c. Lepaskan rabaan pada arteri radialis.
    Untuk Lebih lengkap nya silahkan download file di sini

    » Read More...

    Proses Menua (Lanjut Usia)

    Pengertian
    Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000)
    Batas-Batas Lanjut Usia.
    1. Batasan usia menurut WHO meliputi :
    �� usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun
    �� lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun
    �� lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun
    �� usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun

    2. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai berikut :
    “Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain”.
    Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang berbunyi sebagai berikut: lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.
    Tugas Perkembangan pada Lanjut Usia.
    Orang tua diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap. Mereka diharapkan untuk mencari kegiatan untuk mengganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan sebagian besar waktu kala mereka
    masih muda. Bagi beberapa orang berusia lanjut, kewajiban untuk menghadiri rapat yang menyangkut kegiatan sosial sangat sulit dilakukan karena kesehatan dan pendapatan mereka menurun setelah pensiun, mereka sering mengundurkan diri dari kegiatan sosial. Disamping itu, sebagian besar orang berusia lanjut perlu mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan peristiwa kehilangan pasangan, perlu membangun ikatan dengan anggota dari kelompok usia mereka untuk menghindari kesepian dan menerima kematian dengan tentram.
    Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia.
    A. Perubahan-perubahan Fisik
    1. Sel.
    a. Lebih sedikit jumlahnya.
    b. Lebih besar ukurannya.
    c. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
    d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
    e. Jumlah sel otak menurun.
    f. Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
    g. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
    2. Sistem Persarafan.
    a. Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya).
    b. Cepatnya menurun hubungan persarafan.
    c. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
    d. Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
    e. Kurang sensitif terhadap sentuhan.
    3. Sistem Pendengaran.
    a. Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
    b. Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
    c. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
    d. Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
    4. Sistem Penglihatan.
    a. Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
    b. Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
    c. Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
    d. Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
    e. Hilangnya daya akomodasi.
    f. Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
    g. Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
    5. Sistem Kardiovaskuler.
    a. Elastisitas dinding aorta menurun.
    b. Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
    c. Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan menurunnya kontraksi dan volumenya.
    d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
    e. Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
    6. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
    a.Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat metabolisme yang menurun.
    b.Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun.
    7. Sistem Respirasi
    a.Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
    b.Menurunnya aktivitas dari silia.
    c.Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
    d.Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.

    Untuk Lebih lengkap nya silahkan download file di sini


    » Read More...

    Total Tayangan Laman

    Translator

    Donasi

    Sekilas Info

    Loading...

    Chat Room

    NeoBlog © 2012